Empat Puluh Satu ” Nulis dari Buku “

Lanjut Nulis dari buku, bagian ke delapan ” Cerita cinta yang Sedih ”  buku karya alvi syahrin ” Jika kita Tak pernah Jatuh Cinta “

Seperti yang tertulis, bagian ke delapan ” Cerita Cinta yang Sedih “
Cerita cinta yang sedih adalah ketika kamu menyukai harapanmu, kamu menyukai kata menunggu, kamu menyukai dia yang tidak mencintaimu. Ya, cerita cinta yang sedih adalah ketika cintamu bertepuk sebelah tangan, dan kamu tetap mencintainya meskipun tahu cintamu tak akan terbalas.

—————-

Hai, terimakasih banyak sudah membaca tulisanku dari awal hingga akhir. Aku tunggu ya kritik dan sarannya. 🙂

Tulisan di atas, lahir dari hasil bacaan yang telah saya baca. Karya dari Alvi syahrin dengan judul buku ” Jika kita tak pernah jatuh cinta ” Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung, atau bahkan menyakiti.

Salam manis✍
Purbasari
Mahasiswa Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Ummul Quro Al Islami Bogor.

Empat Puluh ” Nulis dari Buku “

” Bagaimana jika… Jatuh cinta adalah sinonim indah dari hawa nafsu? “

Lanjut Nulis dari buku, bagian ke tujuh ” Jatuh Cinta adalah Ujian”  buku karya alvi syahrin ” Jika kita Tak pernah Jatuh Cinta “

Pada bagian awal, dituliskan pernyataan bahwa jatuh cinta adalah ujian. penulis memberikan gambaran untuk menerangkan pernyataan ” jatuh cinta adalah ujian ” Mengapa bisa dikatakan ujian? Jika ditarik pada pertanyaan Bagaimana dengan orang-orang yang melakukan perselingkuhan? Bukankah, mereka melakukan hal itu untuk mendapatkan kebahagiaan? Karena dasar cinta bukan? Bukan kah ini bentuk ujian? Bagaimana tidak disebutkan ujian, jika kedua belah pihak sudah memiliki pasangan masing-masing tetapi tetap melakukan perselingkuhan.

Jatuh cinta benar-benar sebuah ujian.
Hal yang seharusnya dilakukan adalah setia pada pasangan, tetapi karena timbul rasa baru pada orang baru terjadilah musibah pada sebuah hubungan.

Pada bagian ini pula, penulis buku menuliskan tentang hubungan goals yang banyak diidamkan oleh orang-orang.
Hubungan goals yang bertebaran di sosial media, yang di posting oleh orang-orang yang belum menjadi pasangan yang sah banyak menyorot perhatian. Sehingga, Anak-anak muda atau orang-orang banyak yang menginginkan hubungan yang sama. Tetapi, apalah daya. Setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Kemesraan yang semula di umbar dengan bangga di sosial media, harus di hapus karena alasan putusnya hubungan.

Dewasa ini, kemesraan banyak di pertontonkan oleh orang-orang di sosial media. Yang membuat orang-orang yang menonton atau mengikutinya, berangan-angan ingin memiliki hubungan yang goals versi apa yang mereka lihat. Padahal, mungkin yang kita lihat dari hubungan kemesraan yang di umbar oleh orang-orang di sosial media, hanya indahnya saja.

Mungkin, ada banyak keributan yang terjadi ditiap harinya, ada banyak debat sengit yang terjadi di tiap paginya, ada banyak rasa yang tak bisa diungkap dan di pendam sendiri.
Don’t judge a book by its cover , kita tidak pernah tahu ada apa dibalik kemesraan yang mereka tonton kan di sosial media. Jangan hanya melihat keindahan sebuah hubungan dari layar ponsel, kita menginginkan hubungan yang sama untuk kehidupan kita. Tidak! karena pada kenyataannya ada banyak hal yang tidak menyenangkan yang tidak kita ketahui.

Kita semua pasti menginginkan hubungan yang goals, tetapi kita juga mempunyai versi masing-masing. Jangan karena melihat hubungan goals versi manusia lain, kita menginginkan versi yang sama. Tidak. Kita semua punya versi masing-masing.

Diakhir tulisan pada bagian ini, penulis memberikan nasehat kecil. Bahwa dirimu lebih penting daripada cinta.
—————-

Hai, terimakasih banyak sudah membaca tulisanku dari awal hingga akhir. Aku tunggu ya kritik dan sarannya. 🙂

Tulisan di atas, lahir dari hasil bacaan yang telah saya baca. Karya dari Alvi syahrin dengan judul buku ” Jika kita tak pernah jatuh cinta ” Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung, atau bahkan menyakiti.

Salam manis✍
Purbasari
Mahasiswa Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Ummul Quro Al Islami Bogor.

Tiga Puluh Sembilan ” Nulis dari Buku “

” This love makes me Insecure, but I still don’t want you leave “

Lanjut Nulis dari buku, bagian ke Enam ” Love yourself Too ”  buku karya alvi syahrin ” Jika kita Tak pernah Jatuh Cinta “

Pada bagian ke enam dari buku karya Alvi Syahrin ini, patut dibaca oleh perempuan-perempuan yang selalu menjadikan fisik sebagai tolak ukur kebahagiaan.
Pada bagian ini, tulisan-tulisan yang dirangkai penulis menampar khayalan perempuan yang menginginkan fisiknya sama dengan perempuan-perempuan lain yang ia lihat di sosial media.
Pada bagian ini pula, perempuan diingatkan bahwa Tuhan menciptakan hambanya dengan sebaik-baiknya rupa.

Dalam QS. At-Tin ayat 4 dijelaskan bahwa :

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Tinggal bagaimana manusianya, mensyukuri atas apa yang telah Tuhan beri. Kita seringkali mengatakan ” Kalo aja warna kulitku putih, kalo aja badanku tinggi, kalo aja kalo aja blablablaa “

Tidak dipungkiri, sayapun terkadang mengeluh didepan cermin kala malam hari. “Gimana ya? Ini muka gede banget. Huftt kulit makin item aja, yaampun berat badan naik terus blablabla dan keluhan lainnya”
Pikiran yang tidak terbuka menjadikan kalimat ” Kalo aku cantik dapet yang ganteng, kalo kaya gini, siapa yang mau?”  Sebagai patokan. Seringkali perempuan menjadikan fisik, sebagai tolak ukur calon pasangannya.
Padahal mungkin, kita menjadi tipe ideal seseorang diluar sana.

Tanpa sadar, itu sebuah protes yang kita lakukan pada Tuhan pencipta alam semesta dan isinya, bagaimana tidak? Kita menginginkan kulit yang cantik, hidung yang mancung, tinggi badan yang ideal. Padahal, Tuhan sudah membuat skenario yang indah untuk kita, yang mungkin tidak kita sadari.

Kembali lagi, tak ada hal yang mampu dilakukan kecuali bersyukur atas nikmat yang telah diberikan. Karena, Allah sendiripun berjanji Pada orang yang bersyukur. 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Hal yang sepatutnya kita lakukan adalah menjaga dan mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Bukan mengeluhkan, atau bahkan menyalahkan ketetapan Tuhan.

Untuk perempuan, kamu cantik dengan segala kurang dan lebihmu. Jangan khawatirkan calon pasanganmu, pada saatnya nanti akan ada seseorang yang mampu menerimamu apa adanya.

Semoga kita semua menjadi hamba yang mampu bersyukur atas semua yang telah Allah beri. Aaamin

—————-

Hai, terimakasih banyak sudah membaca tulisanku dari awal hingga akhir. Aku tunggu ya kritik dan sarannya. 🙂

Tulisan di atas, lahir dari hasil bacaan yang telah saya baca. Karya dari Alvi syahrin dengan judul buku ” Jika kita tak pernah jatuh cinta ” Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung, atau bahkan menyakiti.

Salam manis✍
Purbasari
Mahasiswa Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Ummul Quro Al Islami Bogor.

Tiga Puluh Delapan ” Nulis dari Buku “

” Jatuh cinta Diam-Diam telah mengajarkanmu untuk menjaga hati dari hal yang tak pasti “

Lanjut Nulis dari buku, bagian ke lima ” Risiko Jatuh Cinta Diam-Diam”  buku karya alvi syahrin ” Jika kita Tak pernah Jatuh Cinta “

Jatuh cinta yang paling indah adalah jatuh cinta diam-diam…
Ungkapan yang ada pada bagian ke lima dari buku karya Alvi Syahrin, cinta secara diam-diam menjadi cinta yang paling indah. Katanya, memang betul?
Jika berbicara mengenai cinta diam-diam pasti, ingatan setiap orang akan tertuju pada kisah cinta luar biasa yang terjadi pada kisah cintanya Putri Rasulullah SAW. Yaaa, Siti Fatimah beserta teman perjalanan hidupnya, Ali bin Abi Thalib. Siapa yang tidak pernah mendengar kisah cinta diam-diam nya putri Rasulullah beserta pasangan hidupnya?
Kisah cinta yang luar biasa, Diam-diam yang bahkan diceritakan iblis pun tak mengetahui perasaan keduanya. Begitu luar biasanya.

Pada bagian ke lima buku ini, diceritakan bahwa ada sepasang manusia yang saling memendam rasa, namun pada akhirnya ada salah satu dari kedua manusia ini yang berani mengungkapkan rasanya. Setelah mengungkapkan bahwa ia memiliki perasaan, ia mendapatkan balasan atas perasaannya. Namun, tak berselang lama kisah yang baru saja dimulai itu harus berhenti di tengah jalan.

Di akhir tulisan pada bagian ke lima buku ini, Ditegaskan kembali, bahwa cinta dengan cara diam-diam adalah jatuh cinta yang paling indah.

Jatuh cinta diam-diam mengajarkan untuk mengontrol ekspetasi agar tak terlalu tinggi.
Jatuh cinta diam-diam tentunya mampu menjaga hati dari hal-hal yang tak semestinya terjadi.
Jatuh cinta diam-diam membuktikan, bahwa tanpanya pun kamu masih mampu berjalan sendiri.
Jatuh cinta diam-diam adalah sebuah pembuktian, bahwa dirimu kuat akan hatimu yang teriris, kala melihatnya bersama seseorang yang lain.
Dan yang terpenting, jatuh cinta diam-diam akan menyelamatkan hatimu dari kawah luka yang siap menenggelamkanmu.

Hai pembaca. Bagaimana situasimu kali ini? Sedang menikmati cinta diam-diam, atau memilih berani mengambil tindakan? Apapun itu, percayalah bahwa cinta yang diridhoiNya tak melalui jalan yang keliru. Bersabarlah, untuk cinta yang suci diperlukan kesabaran yang pasti dan usaha yang suci.

—————-

Hai, terimakasih banyak sudah membaca tulisanku dari awal hingga akhir. Aku tunggu ya kritik dan sarannya. 🙂

Tulisan di atas, lahir dari hasil bacaan yang telah saya baca. Karya dari Alvi syahrin dengan judul buku ” Jika kita tak pernah jatuh cinta ” Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung, atau bahkan menyakiti.

Salam manis✍
Purbasari
Mahasiswa Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Ummul Quro Al Islami Bogor.

Tiga Puluh Tujuh ” Nulis dari Buku “

Mencintainya terasa seperti berdiri di penghujung tebing dengan mata tertutup. Dan kau tak tahu ke mana harus melangkah: Bertahan atau lepaskan? “

Lanjut Nulis dari buku, bagian keempat ” Tapi, Aku Nggak Mau Pacaran ”  buku karya alvi syahrin ” Jika kita Tak pernah Jatuh Cinta “

Saat pertama kali membaca kalimat pertama dari bagian ke empat buku karya Alvi Syahrin ini, aku sedikit meringis. ( wah bahasa Inggris) yaaaps pada bagian ke empat dari buku ini, diawali dengan kalimat berbahasa Inggris yang bermakna ” Kamu langka “

Pada bagian ke empat ini, pembaca dibawa pada rasa dilema. Bagaimana ya? Apakah harus dilanjutkan atau berhenti saja? Jika dilanjutkan, tak nyaman rasanya dengan adanya rasa lain yang mengganjal. Tetapi jika berhenti, rasa yang ku punya masih sempurna untuknya dan berat rasanya bila nanti melihatnya dengan orang selain aku.

Pada bagian ini pula mengingatkanku pada satu ayat unggulan para jomblo, dalam Al Quran surat Al Isra ayat 32 dikatakan bahwa:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلً

Artinya:

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32).
Sungguh, Islam menjadi agama yang luar biasa. Mengatur semua hal dari yang terkecil sampai terbesar.

Bayangkan, jika Tak ada larangan dalam pergaulan akan seperti apa nasib para muslim khususnya perempuan. Adanya ayat mengenai zina, menjadi pengingat bahwa hubungan manusia sebelum adanya ikatan yang sah adalah hubungan yang salah.

Pernyataan diawal yang mengatakan kamu langka, tak akan  dipahami jika tak melanjutkan membaca paragraf selanjutnya. Di akhir bagian ke empat ini, dijelaskan mengenai pernyataan diawal yang mengatakan kamu langka.

Kamu langka.
Berani mengambil keputusan yang membuat hatimu hancur lebur tak berarti.
Kamu langka.
Berani berbicara dari pandangan yang biasanya orang-orang jauhi dan tak peduli.
Kamu langka.
Mampu mengalahkan ego yang kemudian membawamu pada surga yang dinanti.

Dan tetepalah menjadi langka, agar mendapatkan surga.

” Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).” QS 74:40-41

Semoga kita menjadi manusia yang mampu menahan diri dari hawa nafsu, dan semoga surga menjadi tempat kembali. Aammin.
—————-

Hai, terimakasih banyak sudah membaca tulisanku dari awal hingga akhir. Aku tunggu ya kritik dan sarannya. 🙂

Tulisan di atas, lahir dari hasil bacaan yang telah saya baca. Karya dari Alvi syahrin dengan judul buku ” Jika kita tak pernah jatuh cinta ” Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung, atau bahkan menyakiti.

Salam manis✍
Purbasari
Mahasiswa Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Ummul Quro Al Islami Bogor.



Tiga Puluh Enam ” Nulis dari Buku “

Ada yang berbeda dari cara dia melihatmu, cara dia membalas pesanmu, cara dia bercerita kepadamu, dan kau mulai bertanya : Apakah dia sedang memberiku harapan? “

Lanjut Nulis dari buku, bagian ketiga ” Apakah dia sedang memberiku harapan? ”  buku karya alvi syahrin ” Jika kita Tak pernah Jatuh Cinta “

Pada bagian ke tiga dibuku ini, diceritakan bahwa ada seseorang yang merasa diberi harapan oleh orang lain, yang pada kenyataannya hanyalah sebuah bualan semata, atau bahkan angin lalu saja. Setelah membaca bagian ini, teringat pada kisah sewaktu SMA dulu. Setelah dipatahkan oleh seseorang, kembali aku berusaha mencari jalan kisah baru, dan akhirnya menemukan seseorang yang mengatakan bahwa ia mau menemaniku membuat jalan kisah baru. Tadinya biasa saja, kita adalah dua orang yang bertemu didunia maya. Lebih tepatnya tak pernah nyata. Dia memanggilku dengan sebutan khusus agar berbeda dengan orang lain, dia yang pertama kali menyadari ada sesuatu di wajahku, dan dia juga yang pertama kali menghilang tanpa pamit atau bahkan tanpa permisi.

Ada pelajaran yang dapat kita ambil dari bagian  ke tiga dibuku karya Alvi Syahrin ini, bahwa sejatinya perihal pengharapan hanya Tuhan saja yang mampu memberi kepastian yang sangat pasti, tanpa terkecuali. Berharap pada manusia sama saja menabung luka, yang mungkin akan berakhir menjadi cerita duka.

Tapi kita manusia, yang sangat egois untuk sebuah rasa. Sudah tahu akan dibuat kecewa, tetap saja dilakukan meskipun tahu akan mendapat luka. Semoga Tuhan tidak cemburu, atas semua harap yang kita labuhkan pada manusia lain. Bukan padaNya, pemilik kepastian.

Semoga setelah banyak harap yang kembali dengan kecewa, tak ada lagi harap pada manusia. Semoga semua harap berlabuh hanya padaNya….

——————-

Hai, terimakasih banyak sudah membaca tulisanku dari awal hingga akhir. Aku tunggu ya kritik dan sarannya. 🙂

Tulisan di atas, lahir dari hasil bacaan yang telah saya baca. Karya dari Alvi syahrin dengan judul buku ” Jika kita tak pernah jatuh cinta ” Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung, atau bahkan menyakiti.

Salam manis✍
Purbasari
Mahasiswa Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Ummul Quro Al Islami Bogor.


Tiga Puluh Lima ” Nulis dari Buku “

” Merasa teduh membayangkan menjadi istri yang taat untuk laki-laki yang taat. Sayangnya, pada orangtuanya, dia bahkan tak pernah belajar menjadi anak yang taat. ” -Alvi Syahrin

Lanjut Nulis dari buku, bagian kedua “Seorang gadis dan calon jodohnya” buku karya alvi syahrin ” Jika kita Tak pernah Jatuh Cinta “

Dibuku ini diceritakan bahwa Ada gadis yang  mencita-citakan jodoh yang baik, tanpa persiapan atau perjuangan untuk menjadi baik. Ada pula gadis yang tak berusaha mendikte Tuhan agar mendapat seseorang yang baik, tetapi ia melakukan banyak usaha untuk mendapatkan yang terbaik.

Dalam Al-quran disebutkan bahwa
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26) 

Untuk mendapatkan seseorang yang baik menurut kita, baik dari segala sisi diperlukan usaha yang keras dan tentu, tetap menyerahkan semua hasilnya pada Tuhan, pemilik segala cinta. Untuk mendapatkan mutiara yang bersinar indah, diperlukan usaha keras untuk mendapatkan kerang yang berada di dasar laut. Sama halnya perihal jodoh, untuk mendapatkan yang baik atau bahkan terbaik, hal yang perlu dilakukan adalah memperbaiki diri agar menjadi baik, dan pantas disebut kriteria yang baik dan pantas bagi orang lain.

Ketika kita menjadikan manusia atau rasa yang kita punya sebagai alasan untuk berubah, menjadi manusia yang lebih baik, apa boleh? perlu diingat bahwa berharap pada manusia adalah bentuk usaha untuk mendapatkan kekecewaan. Belum lagi jika nanti seseorang yang kita jadikan alasan untuk berubah menjadi lebih baik menghilang, pergi, atau bahkan tak ada lagi dimuka bumi. Apa yang akan dilakukan?berhenti berproses untuk menjadi baik dengan alasan, seseorang yang kita jadikan alasan untuk berubah ke arah yang lebih baik sudah tidak lagi membersamai,atau bahkan kita berhenti di tengah jalan? Kita harus selalu ingat bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati,  ” Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185).

Atau bahkan karena rasa yang kita miliki berubah, ikut pula menjadikan alasan untuk berhenti berproses untuk menjadi baik? Karena dia sudah tidak memiliki rasa, atau tidak lagi membalas rasamu, kamu memutuskan untuk berhenti berproses untuk menjadi lebih baik.
Jangan hanya karena ingin mendapatkan jodoh yang baik, kita berpura-pura baik. Bagaimana jika nanti ketika kita berpura-pura baik demi jodoh yang baik, kita malah mendapatkan seseorang yang pura-pura baik pula. Wah, sungguh miris.

Jadi, baiknya proses kita untuk menjadi baik ini untuk siapa? Karena apa? Atas dasar apa?
Semoga kita semua mampu berubah menjadi lebih baik karena Allah. Karena kecintaan kita pada Rabb pemilik semesta, bukan karena manusia atau bahkan rasa yang kita punya. Waullahualam….

————————–

Hai, terimakasih banyak sudah membaca tulisanku dari awal hingga akhir. Aku tunggu ya kritik dan sarannya. 🙂

Tulisan di atas, lahir dari hasil bacaan yang telah saya baca. Karya dari Alvi syahrin dengan judul buku ” Jika kita tak pernah jatuh cinta ” Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung, atau bahkan menyakiti.

Salam manis✍
Purbasari
Mahasiswa Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Ummul Quro Al Islami Bogor.


Tiga puluh empat “Nulis dari buku”

” Cinta butuh konsekuensi, dan konsekuensinya adalah keselamatan hatimu. Keselamatan dirimu sendiri ” -Alvi syahrin

Setelah membaca bagian “Ketika usiamu delapan belas tahun” Dalam buku karya Alvi Syahrin dengan judul buku “Jika kita tak pernah jatuh cinta” Saya tidak bisa berkomentar, saya ingin menulis namun saya tidak tahu apa yang harus saya tulis. Bagian awal dari buku ini cukup membingungkan untuk saya, (FYI saya sedang berusaha belajar menyukai “membaca” jadi untuk mengambil makna dari sebuah tulisan, untuk pemula yang sedang belajar menyukai membaca, saya rasa cukup sulit. Semoga kedepannya dimudahkan, dan tentunya membaca menjadi kebiasaan yang disenangi.) Aammin

Di umur empat belas tahun cinta menjadi dunia sendiri bagi sebagian orang, termasuk saya. Di usia empat belas tahun saya menemukan arti dicintai, ( dalam pandangan anak usia empat belas tahun ) meskipun saya tahu ini adalah kisah anak kecil yang mungkin menjadi bahan tertawaan oleh orang dewasa. Dan menjadi kisah dengan akhir yang menyedihkan.

Dibuku karya Alvi syahrin ini diceritakan bahwa di usia empat belas tahun, cinta menjadi dunia sendiri bagi orang lain. Di usia empat belas tahun, ada manusia yang tersenyum untuk beberapa detik, dan murung di detik selanjutnya. Di usia empat belas tahun, cinta terlihat seperti hal yang mampu menghancurkan.

Setelah melewati kisah dengan akhir yang menyedihkan di usia empat belas tahun, kembali, saya merasakan kisah yang menyedihkan di usia enam belas tahun. Sungguh, kisah cinta anak remaja yang bisa dijadikan bahan stand up comedy. Lucu, dan sedikit menyedihkan. Tidak sedikit, banyak.

Di usia enam belas tahun, karena alasan cinta pertemuan dengan sahabat mulai jarang terjadi, obrolan sampai larut malam tak lagi dilakukan. Lambat laun, cinta membuat jarak antara seorang sahabat dengan sahabat baiknya. Di usia enam belas tahun, cinta menjadi hal yang menyenangkan (sepertinya) bagi orang-orang yang beruntung menemukan seseorang yang mampu mencintai dan dicintai.

Menginjak usia delapan belas tahun, akhirnya saya menyerah pada cinta. Lebih tepatnya pada usia enam belas. Tak lagi saya mencari atau menerima seseorang untuk membuat kisah bersama. Cukup, saya katakan pada diri saya, kisah sebelumnya memberikan banyak pelajaran. Dan akhirnya saya membuat prinsip ” Tak ada lagi kisah sebelum ada kata sah, demi cinta yang berkelas, tanpa meninggalkan luka yang membekas. ” (Quote by purbasari haha)

Lanjut, dibuku ini dipaparkan bahwa diusia delapan belas tahun cinta menjadi hal yang tidak datar. Cinta menjadi alasan bahagia, dan cinta pula menjadi alasan adanya luka.
Kemudian pada usia dua puluh tahun, bertemu orang baru dan memulai kisah yang baru, dan berakhir pada patah hati yang sama dengan batin yang berteriak ” Sudah, cukup “. Akhirnya pada usia dua puluh tahun, menyerah dalam diam adalah jalan yang dipilih.

Dibuku ini juga dituliskan, mengenai kamu yang ditinggalkan menikah lebih dulu oleh teman-temanmu, teman-temanmu sudah berfoto ria dengan suaminya, teman-temanmu yang sudah bermain dengan anaknya. Dan kamu? Masih saja sendiri.
Tetapi dibuku ini juga kamu diberikan jawaban atas pertanyaan, kapan waktuku merasakan apa yang teman-temanku rasakan?

Yang saya pahami setelah membaca buku ini, Ternyata, cinta menjadi hal yang tak perlu dikhawatirkan. Mengapa demikian?
Karena ternyata ada hal yang lebih penting daripada cinta dalam hidup ini.

Jika kalian bertanya, apa yang lebih penting daripada cinta?

” Maka, tetaplah menggenggam buku ini. Ia akan menarikmu ke dalam berbagai realitas cinta yang, Mudah-mudahan membuatmu ketika jatuh cinta nanti, tak lagi patah sehancur itu “

Itulah jawaban dari penulis buku, wah bagaimana? Membingungkan ya?Masih banyak bagian yang harus dibaca, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan apa yang lebih penting daripada cinta?

————————–

Hai, terimakasih banyak sudah membaca tulisanku dari awal hingga akhir. Aku tunggu ya kritik dan sarannya. 🙂

Tulisan di atas, lahir dari hasil bacaan yang telah saya baca. Karya dari Alvi syahrin dengan judul buku ” Jika kita tak pernah jatuh cinta ” Mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung, atau bahkan menyakiti.

Salam manis✍
Purbasari
Mahasiswa Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Ummul Quro Al Islami Bogor.







Tiga puluh tiga

Surga bukan tempat bagi mereka yang berbangga diri.
———————————————————————
Ada yang pernah berbangga diri? Merasa diri lebih baik daripada orang lain. Merasa diri paling depan dibanding orang lain. Pernah? Sama-sama istighfar yuk, minta ampun ke Allah atas salah yang kita lakukan.
Loh emang berbangga diri salah?
“aku kerja di tempat yang lebih enak dari kamu, meskipun aku banyak makan tapi badan aku tetep bagus, meskipun aku panas-panasan terus tapi kulit mukaku tetap ke jaga, meskipun meskipun meskipun lainnya”
Tanpa sadar kita sering membanggakan diri sendiri, padahal ternyata bangga diri termasuk kedalam perbuatan yang tidak baik.
Kok bisa berbangga diri? Kita lengah, akhirnya setan berhasil bisik-bisik manja ke telinga dan hati kita. Gimana nih cara biar engga berbangga diri? Jawabannya ada di QS ke 49 ayat 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَ وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾

13. Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Jadi, apa yang mau di banggakan? Kita setara dihadapan Allah. Yang membedakan kita hanya Keimanan dan ketakwaan.
(Inget selalu “kalo kita ini semua sama dihadapan Allah” Buat menanggulangi keinginan untuk berbangga diri)

Surga bukan tempat bagi mereka yang berbangga diri, Iblis Diperintah Allah buat  sujud ke Nabi Adam AS, tapi iblis menolak. Alasannya Kenapa? Jawabannya karena Iblis berbangga diri.
” saya kan diciptakan dari Api, sedangkan adam dari tanah “
Ada kebanggaan diri pada iblis, sehingga iblis tidak mentaati perintah yang Allah berikan.
Setelah berbangga diri apa yang iblis dapatkan? Tiket keluar surga. 🙂
Untung apa rugi? Rugi bandar makkkkkkk.

Diakhir tulisan ini semoga kita semua mendapatkan ampunan Allah atas perbuatan bangga diri yang pernah kita lakukan. Semoga Allah beri kita sifat tawadhu yang luar biasa, sifat zuhud yang hebat. Dan semoga Allah selalu menghindarkan kita dari perbuatan berbangga diri. Aammin

————————————–
Ditulis oleh Purbasari mahasiswa komunikasi institut Ummul Quro Al Islami Bogor
Tulisan ini terinspirasi dari Podcast yang telah penulis dengarkan. ( Mohon maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan di hati)

 Bangga diri, oleh Hawwariyun 
https://open.spotify.com/episode/7eDEthnLIegHAI0mcDtOYx?si=GMMe7jfoTwCzexhhLlcHfg

Semoga Allah selalu menjaga dan memberikan banyak kebahagiaan pada kehidupan beliau. Aaamin.